PENDAMPINGAN SUAMI CEGAH “POSTPARTUM BLUES”

tKOMPAS.com – Dalam kebidanan, proses penyesuaian peran seorang wanita yang menjadi ibu baru setelah melahirkan tidak selalu sama seperti pada gambaran seorang ibu yang menatap wajah bayinya penuh cinta dan bahagia. Ada pula kasus dimana seorang ibu setelah melahirkan menolak melihat, menyentuh bahkan tidak mau berkontak dengan bayi yang telah dilahirkannya.

Bahkan ada pula yang menjadi benci pada suaminya, merasa tidak percaya diri, cemburu dan rasa ditinggalkan,ada pula seorang ibu yang merasa bersaing dengan kehadiran bayi baru diantara ia dan suaminya. Postpartum blues adalah salah satu bentuk perubahan perilaku dan respon psikologis terhadap perubahan peran menjadi seorang ibu. Beberapa kasus postpartum blues tidak hanya ditemukan pada kelahiran pertama kali, namun dapat pula terjadi pada kasus persalinan kedua atau berikutnya.

Berbagai pencetus timbulnya postpartum blues ini dalam salah satu literatur kebidanan disebutkan akibat perubahan hormon, ketidaksiapan mental akibat kelahiran yang tidak diinginkan, tekanan ekonomi, tuntutan atas jenis kelamin tertentu dalam suatu adat masyarakat, korban perkosaan, kurang dukungan suami dan keluarga, kecemasan berlebihan menjadi calon ibu, dan perubahan fisik yang menjadi kecemasan setelah melahirkan.

Ibu dengan gangguan postpartum blues ditemukan gejalanya pada beberapa hari setelah melahirkan dan pada umumnya tidak berlangsung lama setelah ada proses penerimaan diri dan pendampingan yang cukup baik dari suami maupun keluarga. Post partum blues akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 10 hingga 14 hari pascapartum. Kurangnya pemahaman para suami tentang keadan postpartum blues (baby blues) seringkali menimbulkan kesalahpahaman keluarga baru.

Berikut ini dapat dikenali beberapa ciri atau tanda seorang ibu pasca partum mengalami gangguan psikologis postpartum blues. Ibu mudah tersinggung, menangis tanpa sebab yang jelas, enggan merawat bayi, merasa keletihan yang sangat, gelisah, menarik diri dari lingkungan, menolak menyusui bayi dan tidak ingin menyentuh bayi.

Bila suami dan keluarga menemukan adanya tanda-tanda seorang ibu pascapartum mengalami keluhan demikian, hendaknya tidak menyikapi dengan mendikte dan menganggap perubahan situasi kejiwaan itu sebagai penolakan fungsi dan peran sebagai ibu baru dari sang istri, perasaan manja, dan sebagainya. Namun sebaliknya, seorang suami hendaknya memberikan dukungan mental dan membesarkan hati istri agar perlahan-lahan mampu menerima perubahan baru dalam kehidupannya sebagai seorang ibu.

Membantu merawat bayi dan memberikan waktu tidur istirahat yang cukup selama masa postpartum blues berlangsung. Kurangnya waktu istirahat bagi ibu setelah bersalin akan menambah beban mental dan ketegangan psikologis. Pada kasus kehamilan yang tidak diinginkan, baik akibat perkosaan atau kehamilan yang tidak terencana, dukungan mental keluarga menjadi hal terpenting bagi seorang ibu pascapartum.

Bilamana memungkinkan perawatan bayi dapat diambil alih, misalnya dilakukan persetujuan adopsi dan atas kerelaan seorang ibu yang melahirkan bayi tersebut. Hubungan yang harmonis dan pendampingan mental sangat menentukan apakah seorang ibu pascabersalin akan mampu melewati masa postpartum blues tersebut dengan aman.

Masa-masa awal pendampingan mencegah postpartum blues dapat dimulai segera setelah melahirkan. Kehadiran suami selama proses persalinan, kesediaan suami membantu proses perlekatan ibu dan bayi pertama kali saat menyusui, membantu mengatur posisi menyusui bayi yang nyaman bagi istri, membantu bergantian melakukan perawatan bayi, bergantian berjaga saat merawat bayi terutama malam hari agar istri mendapat waktu cukup untuk beristirahat, menanyakan keadaan kesehatan istri dan bayi saat suami di kantor, dan ketika ada waktu senggang membantu meringankan keluhan ringan akibat keletihan melewati proses persalinan dengan pijatan ringan dibahu dan punggung.

Pijatan ringan dan sentuhan fisik ini selain memberi kontak fisik dan menjalin kedekatan suami istri ketika istri sedang menyusui bayinya, juga memberi efek melancarkan ASI. Suami juga dapat menyiapkan dan menyuapkan makanan atau minuman bergisi saat istri sedang menyusui bayi, menemani istri senam nifas dan memberi pujian bagi istri. Kontak fisik dan mental yang erat dan harmonis ini akan membangun rasa percaya diri seorang ibu baru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: