Kebiasaan Emut Jari Pada Anak

100_4422Hampir 80% bayi mempunyai kebiasaan menghisap jempol atau jari lainnya.
Biasanya keadaan ini terjadi sampai bayi berusia sekitar 18 bulan.
Tetapi kadang-kadang masih dijumpai pada anak usia prasekolah bahkan
sampai berusia 6 tahun ke atas. Sebagian besar anak yang
mempunyai kebiasaan menghisap jempol mempunyai obyek atau barang yang
sering dipegang seperti selimut, mainan, serpihan baju atau rambut
mereka sendiri.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa menghisap jempol karena kebiasaan
dari kecil. Pendapat lain mengatakan bahwa menghisap jempol adalah
ekspresi seksual pada masa bayi yang menggambarkan gangguan emosional
pada umur bayi. Sebagian besar menganggap menghisap jempol berarti
memuaskan diri sendiri yang dapat menghilangkan stres dan menenangkannya.

*Beberapa masalah dapat ditimbulkan akibat kebiasaan menghisap jempol
seperti:*

1. Masalah gigi, bila kebiasaan ini bertahan sampai umur 4 tahun maka
akan menyebabkan maloklusi gigi susu dan permanen, juga dapat
menyebabkan masalah pada tulang-tulang di sekitar mulut. Risiko
tinggi ditemukan pada anak yang menghisap jempol pada waktu siang
dan malam.
2. Jari abnormal, dengan penghisapan yang terus menerus terjadi
hiperekstensi jari, terbentuk kalus, iritasi, eksema, dan
paronikia (jamur kuku).
3. Efek psikologis pada anak akan menimbulkan menurunnya kepercayaan
diri anak karena anak sering diejek oleh saudara atau orangtuanya.
4. Keracunan tidak disengaja, anak yang menghisap jempol terpapar
tinggi terhadap keracunan yang tidak disengaja misalnya keracunan Pb.
5. Risiko infeksi saluran cerna meningkat.

*Kapan perlu diintervensi?
*
Sebelum umur 4 tahun menghisap jempol adalah normal dan tidak
berhubungan dengan gangguan fungsi sosial dan pekembangan anak. Perilaku
ini harus tidak dianggap penting dan tidak memerlukan perlakuan khusus.
Secara umum tidak ada yang perlu dilakukan sampai anak berumur 4 tahun
karena sebagian besar akan menghilang setelah usia 4 tahun dan belum ada
komplikasi yang timbul sebelum umur ini.
Intervensi yang dapat dilakukan orang tua yaitu:

1. Mengetahui penyebab.
Sebelum pengobatan dimulai kebiasaan anak sehari-hari harus
diketahui termasuk cara anak beradaptasi terhadap lingkungan
sekitar. Bila faktor pencetus emosional dan psikologis ditemukan
maka terapi anak dimulai.
2. Menguatkan anak.
Terapi harus dimulai dengan keikutsertaan anak, kerjasama, dan
yang paling penting ketertarikan untuk menghentikan kebiasaan
tersebut. Orangtua diingatkan untuk tidak memberikan hukuman pada
anak karena anak akan makin menolak untuk menghentikan kebiasaan ini.

Bila kebiasaan ini menetap setelah anak berumur 4 tahun maka mulai
dilakukan intervensi dengan modifikasi perilaku dan beberapa cara
pendekatan positif yaitu:

* Mengingatkan anak
Catatan atau kalender yang menyatakan keberhasilan anak tidak
menghisap jempol
* Hadiah
Stiker, buku cerita, perilaku khusus, atau waktu berlibur dengan
orang tua bila anak bebas menghisap satu hari
* Menghargai
Menghargai anak-anak bila tidak menghisap jempol
* Memberikan zat yang pahit
Diberikan pada jempol pada waktu pagi, malam dan waktu anak mulai
menghisapjempol.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: